Teknologi otak terus berkembang. Dan kini telah hadir teknologi suara untuk otak yang berfungsi untuk meningkatkan kecerdasan. Dengan mendengar bunyi ini secara rutin, maka otak akan semakin cerdas, sambungan antar neuron semakin banyak, dan kecepatan berpikir meningkat pesat.
Musik Stimulasi Otak Kanan
Jika selama ini banyak orangtua yang memasukkan anak-anaknya untuk mengikuti kegiatan ekstra kulikuler yang “berat” seperti matematika. Ada baiknya Anda juga memikirkan alternatif kegiatan yang dapat menstimulasi otak kanan anak. Menurut penelitian ilmiah, otak manusia terbagi atas otak kiri dan kanan. Kemampuan dari masing-masing otak itu juga berbeda. Jika otak kiri diidentikkan dengan kecerdasan analitik seperti kemampuan matematis dan berpikir secara sistematis, maka otak kanan biasa dikaitkan dengan kreativitas, misalnya kemampuan berkomunikasi dan seni. Sayangnya, seringkali orangtua tidak mengukur minat dan bakat yang dimiliki anak. Berdalih agar anak meindapatkan pengalaman dan pemahaman yang luas, anak-anak diharuskan mengikuti berbagai kursus yang didaftarkan oleh orangtuanya.
Menurut Executive Director pre-school dan Kindergarten Pestalozzi, DR. Dharmayuwati Pane, MA, lebih baik jika kursus atau les yang diberikan anak dapat menstimulasi otak kanan, tidak hanya otak kiri. Bagian otak kiri sudah banyak didapat anak dari pelajaran di sekolah. “Stimulasi otak kanan itu seperti kursus musik, atau yang mengolah tubuh juga seperti berkuda atau renang,” ujar Wati, sapaan akrab Dharmayuwati. Menurut Wati, manusia terlahir dengan kemampuan otak kiri, sehingga yang perlu diasah ialah otak kanan. Apalagi stimulasi otak kiri sudah banyak diterima anak dari sekolah. Jadi kursus atau les sebaiknya melengkapi stimulasi otak kanan. Namun, dia juga mengingatkan agar orangtua juga melihat karakteristik anaknya terlebih dahulu. Kemudian, orangtua dapat mengarahkan anak. “Contoh, orangtua ingin mendidik anak menjadi pemusik atau menyukai musik. Bisa menanamkan dengan pendidikan musik, perdengarkan kaset, alat musik, lama-lama anak mau. Anak saya juga awalnya sulit, kelas 2 SD baru suka dengan piano padahal saya ajarkan sejak play grup. Yang penting ibunya yang lebih banyak berperan,” tuturnya. Bagi Wati, mengikutsertakan anak kursus juga bisa melatih disiplin. Agar anak selalu memiliki jadwal kegiatan yang berguna. Tentu saja, hal ini membutuhkan program dari orangtua sejak dini. “Memang kalau anak ada bakat, lebih mudah. Kalau tidak ada bakat juga bisa, tapi harus ada disiplin diri,” ujar Wati yang menyelesaikan pendidikannya di Jerman.
This figure illustrates the feedback and feedforward interactions that occur during music performance. As a musician plays an instrument, motor systems control the fine movements needed to produce sound. The sound is processed by auditory circuitry, which in turn is used to adjust motor output to achieve the desired effect. Output signals from premotor cortices are also thought to influence responses within the auditory cortex, even in the absence of sound, or prior to sound; conversely, motor representations are thought to be active even in the absence of movement on hearing sound. There is therefore a tight linkage between sensory and production mechanisms.
Latihan bermain musik, menurut seorang ahli syaraf asal Jerman, tak hanya meningkatkan kinerja nalar otak, melainkan juga dapat meningkatkan kapasitas otak yang diperlukan bagi seseorang untuk dapat memproses rangsangan bunyi dan nada musik. Kesimpulan itu diperoleh ahli syaraf Christo Pantev dan koleganya dari Universitas Munster, Jerman, setelah melakukan kajian terhadap pola citra magnetik yang merekam perbandingan otak-otak musisi terlatih dengan orang yang tak pernah memainkan notasi musik. Riset sebelumnya di Amerika Serikat juga menunjukkan, pelajaran musik dapat meningkatkan intelegensia remaja. Musik dapat menaikkan kapasitas dan kualitas nalar otak.
Metode Simulasi Gelombang Otak
Simulasi gelombang otak adalah fenomena yang alami, sama alaminya dengan teori fisika. Getaran suara tertentu yang didengarkan telinga bisa menggetarkan otak, sehingga otak memproduksi gelombang yang frekwensinya sama dengan frekwensi suara yang kita dengar. Hal ini sama saja dengan hukum fisika pada dua garpu tala.
Apabila ada dua buah garpu tala yang senada, apabila salah satu garpu tala diketuk T1 (digetarkan), lalu didekatkan tanpa menyentuhnya kepada garpu tala lain T2 , yang diam, maka garpu tala yang lain ini akan ikut bergetar, dengan nada yang sama. Maka garpu tala T2 disebut beresonansi (ikut bergetar) dengan garpu tala T1 .
Demikian pula otak manusia, dengan diketahuinya setiap tingkat gelombang otak manusia yang mampu beresonansi dari getaran audio, visual, dan sinyal raba atau perasaan, maka kita dapat mensimulasi otak kita agar menghasilkan gelombang otak tertentu sesuai kebutuhan, misalnya untuk meningkatkan kemampuan berpikir, ingatan, pemahaman yang cepat, meditasi, aktifitas-aktifitas supranatural, mengobati atau meningkatkan kesehatan bagi mereka yang menderita ADHD, ADD atau Autism, susah tidur dan seterusnya.
Teknologi Gelombang Otak
Getaran atau frekwensi adalah jumlah pulsa (impuls) perdetik dengan satuan hz. Berdasarkan riset selama bertahun-tahun di berbagai negara maju, frekwensi otak manusia berbeda-beda untuk setiap fase sadar, rileks, tidur ringan, tidur nyenyak, trance, panik, dan sebagainya. Melalui penelitian yang panjang, akhirnya para ahli syaraf (otak) sependapat bawah gelombang otak berkaitan dengan kondisi pikiran. kami akan jelaskan satu per satu tentang jenis-jenis frekwensi gelombang otak dan pengaruhnya terhadap kondisi otak manusia.
GAMMA (16 hz – 100 hz)
Adalah gelombang otak yang terjadi pada saat seseorang mengalami aktifitas mental yang sangat tinggi, misalnya sedang berada di arena pertandingan, perebutan kejuaraan, tampil dimuka umum, sangat panik, ketakutan, kondisi ini dalam kesadaran penuh. Berdasarkan penyelidikan Dr. Jeffrey D. Thompson (Center for Acoustic Research) di atas gelombang gamma sebenarnya masih ada lagi yaitu gelombang Hypergamma ( tepat 100 Hz ) dan gelombang Lambda (tepat 200 Hz), akan yang merupakan geolombang-gelombang supernatural atau berhubungan dengan kemampuan yang luar biasa.
BETA (di atas 12 hz atau dari 12 hz s/d 19 hz)
Merupakan gelombang otak yang terjadi pada saat seseorang mengalami aktifitas mental yang terjaga penuh. Anda berada dalam kondisi ini ketika Anda melakukan kegiatan Anda sehari-hari dan berinteraksi dengan orang lain di sekitar Anda. Gelombang beta dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu high beta (lebih dari 19 Hz) yang merupakan transisi dengan getaran gamma , lalu getaran beta (15 hz -18 hz) yang juga merupakan transisi dengan getaran gamma, dan selanjutnya lowbeta (12 hz ~ 15 hz).
Merupakan gelombang otak yang terjadi pada saat seseorang mengalami aktifitas mental yang terjaga penuh. Anda berada dalam kondisi ini ketika Anda melakukan kegiatan Anda sehari-hari dan berinteraksi dengan orang lain di sekitar Anda. Gelombang beta dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu high beta (lebih dari 19 Hz) yang merupakan transisi dengan getaran gamma , lalu getaran beta (15 hz -18 hz) yang juga merupakan transisi dengan getaran gamma, dan selanjutnya lowbeta (12 hz ~ 15 hz).
Sensori Motor Rhytm (12 hz – 16 hz)
SMR sebenarnya masih masuk kelompok getaran lowbeta, namun mendapatkan perhatian khusus dan juga baru dipelajari secara mendalam akhir-akhir ini oleh para ahli, karena penderita epilepsy, ADHD ( Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) dan Autism ternyata tidak menghasilkan gelombang jenis ini. Para penderita gangguan di atas tidak tidak mampu berkonsentrasi atau fokus pada suatu hal yang dianggap penting. Sehingga setiap pengobatan yang tepat adalah cara agar otaknya bisa menghasilkan getaran SMR tersebut. Dan hal ini bisa dilakukan dengan teknik neurofeedback .
SMR sebenarnya masih masuk kelompok getaran lowbeta, namun mendapatkan perhatian khusus dan juga baru dipelajari secara mendalam akhir-akhir ini oleh para ahli, karena penderita epilepsy, ADHD ( Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) dan Autism ternyata tidak menghasilkan gelombang jenis ini. Para penderita gangguan di atas tidak tidak mampu berkonsentrasi atau fokus pada suatu hal yang dianggap penting. Sehingga setiap pengobatan yang tepat adalah cara agar otaknya bisa menghasilkan getaran SMR tersebut. Dan hal ini bisa dilakukan dengan teknik neurofeedback .
ALPHA ( 8 hz – 12 hz )
Adalah gelombang otak yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami relaksaksi atau mulai istirahat dengan tanda-tanda mata mulai menutup atau mulai mengantuk. Anda menghasilkan gelombang alpha setiap akan tidur, tepatnya masa peralihan antara sadar dan tidak sadar. Fenomena alpha banyak dimanfaatkan oleh para pakar hypnosis untuk mulai memberikan sugesti kepada pasiennya. Orang yang memulai meditasi (meditasi ringan) juga menghasilkan gelombang alpha. Frekwensi alpha 8 -12 hz , merupakan frekwensi pengendali, penghubung pikiran sadar dan bawah sadar. Anda bisa mengingat mimpi Anda, karena Anda memiliki gelombang alpha. Kabur atau jelas sebuah mimpi yang bisa Anda ingat, tergantung kualitas dan kuantitas gelombang alpha pada saat Anda bermimpi.
Adalah gelombang otak yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami relaksaksi atau mulai istirahat dengan tanda-tanda mata mulai menutup atau mulai mengantuk. Anda menghasilkan gelombang alpha setiap akan tidur, tepatnya masa peralihan antara sadar dan tidak sadar. Fenomena alpha banyak dimanfaatkan oleh para pakar hypnosis untuk mulai memberikan sugesti kepada pasiennya. Orang yang memulai meditasi (meditasi ringan) juga menghasilkan gelombang alpha. Frekwensi alpha 8 -12 hz , merupakan frekwensi pengendali, penghubung pikiran sadar dan bawah sadar. Anda bisa mengingat mimpi Anda, karena Anda memiliki gelombang alpha. Kabur atau jelas sebuah mimpi yang bisa Anda ingat, tergantung kualitas dan kuantitas gelombang alpha pada saat Anda bermimpi.
THETA ( 4 hz – 8 hz )
Adalah gelombang otak yang terjadi pada saat seseorang mengalami tidur ringan, atau sangat mengantuk. Tanda-tandanya napas mulai melambat dan dalam. Selain orang yang sedang diambang tidur, beberapa orang juga menghasilkan gelombang otak ini saat trance, hypnosis, meditasi dalam, berdoa, menjalani ritual agama dengan khusyu. Orang yang mampu mengalirkan energi chi, prana atau tenaga dalam, juga menghasilkan gelombang otak theta pada saat mereka latihan atau menyalurkan energinya kepada orang lain.
Adalah gelombang otak yang terjadi pada saat seseorang mengalami tidur ringan, atau sangat mengantuk. Tanda-tandanya napas mulai melambat dan dalam. Selain orang yang sedang diambang tidur, beberapa orang juga menghasilkan gelombang otak ini saat trance, hypnosis, meditasi dalam, berdoa, menjalani ritual agama dengan khusyu. Orang yang mampu mengalirkan energi chi, prana atau tenaga dalam, juga menghasilkan gelombang otak theta pada saat mereka latihan atau menyalurkan energinya kepada orang lain.
Bayi dan balita rata-rata tidur lebih dari 12 jam dalam sehari. Itulah mengapa otak anak-anak selalu dalam fase gelombang alpha dan theta. Perlu diingat, gelombang alpha dan theta adalah gelombang pikiran bawah sadar. Oleh sebab itu, anak-anak cepat sekali dalam belajar dan mudah menerima perkataan dari orang lain apa adanya. Gelombang otak ini juga menyebabkan daya imajinasi anak-anak luar biasa. Ketika mereka bermain mobil-mobilan misalnya, imajinasi mereka aktif dan permainan menjadi sangat seru.
Gelombang otak theta juga dikenal sebagai “gelombang ajaib”, karena berkaitan dengan kekuatan psikis. Berdasarkan penyelidikan para ahli, bahwa banyak terjadi kecelakaan pesawat udara, tabrakan, kebakaran, kecelakaan kapal laut yang menewaskan banyak orang. Namun ada keanehan, beberapa anak balita bisa selamat. Kemungkinan ini dikarenakan anak-anak hampir setiap saat dalam kondisi gelombang theta. Perasaan dekat dengan Tuhan pun akan terjadi apabila kita dapat memasuki fase gelombang theta. Anda mungkin pernah mengalaminya saat Anda berdoa, meditasi, melakukan ritual-ritual agama. Dengan dasar inilah “GOD SPOT” ditemukan.
Schumann Resonance (7.83 hz)
Schumann Resonance adalah getaran alam semesta pada frekwensi 7.83 Hz yang juga masuk dalam kelompok gelombang theta. Seseorang yang otaknya mampu menghasilkan dan mempertahan frekwensi ini memiliki kemampuan supernatural, seperti ESP, telepati, clayrvoyance, dan fenomena psikis lainnya. Anak indigo, yaitu anak super cerdas yang biasanya berkemampuan ESP atau Extra Sensory Perception, juga bisa memasuki gelombang ini dengan mudah dan konstan.
Schumann Resonance adalah getaran alam semesta pada frekwensi 7.83 Hz yang juga masuk dalam kelompok gelombang theta. Seseorang yang otaknya mampu menghasilkan dan mempertahan frekwensi ini memiliki kemampuan supernatural, seperti ESP, telepati, clayrvoyance, dan fenomena psikis lainnya. Anak indigo, yaitu anak super cerdas yang biasanya berkemampuan ESP atau Extra Sensory Perception, juga bisa memasuki gelombang ini dengan mudah dan konstan.
DELTA (0.5 hz – 4 hz)
Adalah gelombang otak yang memiliki amplitudo yang besar dan frekwensi yang rendah, yaitu dibawah 3 hz. Otak Anda menghasilkan gelombang ini ketika Anda tertidur lelap, tanpa mimpi. Fase delta adalah fase istirahat bagi tubuh dan pikiran. Tubuh Anda melakukan proses penyembuhan diri, memperbaiki kerusakan jaringan, dan aktif memproduksi sel-sel baru saat Anda tertidur lelap.
Adalah gelombang otak yang memiliki amplitudo yang besar dan frekwensi yang rendah, yaitu dibawah 3 hz. Otak Anda menghasilkan gelombang ini ketika Anda tertidur lelap, tanpa mimpi. Fase delta adalah fase istirahat bagi tubuh dan pikiran. Tubuh Anda melakukan proses penyembuhan diri, memperbaiki kerusakan jaringan, dan aktif memproduksi sel-sel baru saat Anda tertidur lelap.
Penemuan baru dibidang frekwensi dan gelombang otak manusia oleh Dr. Jeffrey D. Thompson dari Neuroacoustic Research, bahwa masih ada gelombang dan frekwensi lain dibawah delta, atau dibawah 0.5 hz, yaitu frekwensi EPSILON, yang juga sangat mempengaruhi aktifitas mental seseorang dalam kemampuan supranatural, seperti pada gelombang theta diatas.
Musik, Kata, dan Otak Manusia
Satu lagi kehebatan otak manusia terkuak melalui penelitian. Dalam otak manusia, ternyata, musik dan kata-kata bekerja sebagai mitra. Keduanya saling berjalin kelindan satu sama lain. Ini berarti, dengan musik otak bisa memerintah seluruh saraf agar manusia—si pemilik otak—lancar berkata-kata. Penelitian menemukan apa yang disebut “tumpang tindih” pada mekanisme otak dalam hal pengolahan bahasa dan musik instrumental. Penelitian ini menunjukkan bahwa terapi musik secara intensif dapat membantu meningkatkan kemampuan berkata-kata pasien stroke. Tak tanggung-tanggung, hasil penelitian ini dipresentasikan dalam American Association for the Advancement of Science.
Penderita Stroke
Penemuan ini penting dalam hubungannya dengan perawatan penderita stroke. Orang-orang yang telah menderita stroke berat pada otak kiri dan tidak bisa berbicara, bisa belajar berkomunikasi melalui bernyanyi. Itulah yang dikatakan Gottfried Schlaug, profesor neurologi dari Harvard Medical School. "Musik menciptakan pengalaman multiindrawi, mengaktifkan link ke beberapa bagian otak manusia," kata Schlaug yang terlibat dalam penelitian. Schlaug lantas menunjukkan video seorang pasien yang hanya bisa mengucapkan kata-kata "Aku haus." Lantaran terkena serangan stroke, pasien itu tak bisa berkata-kata. Tetapi dengan menyanyikan kata “Aku harus”, sang pasien bisa memperlihatkan kemampuan berkata-kata. Pasien stroke lain bernyanyi dengan mengucapkan kata-kata "selamat ulang tahun." Tanpa melalui bernyanyi, mereka tak bisa mengucapkan kata-kata.
"Jika Anda memiliki seorang kerabat yang nonverbal dan mereka dapat mengatakan mereka lapar atau haus atau bertanya di mana kamar mandi, itu suatu kemajuan yang berarti," kata Schlaug yang juga bekerja di Melodic Therapy. Bagaimana memaknai penemuan ini?
Hingga abad XX lalu, muncul laporan tentang pasien stroke yang tak bisa berbicara. Tapi sebagian dari mereka bisa bernyanyi. Atas dasar itu, kemudian dilakukan serangkaian percobaan untuk meneliti apakah musik dapat digunakan sebagai terapi terhadap para penderita stroke. Bahkan, Nina Kraus, Direktor Auditory Neuroscience Laboratory di Northwestern University, melaporkan jika studi baru menunjukkan bahwa latihan musik justru meningkatkan kemampuan otak manusia. Nina Kraus lalu mengambil contoh pentingnya latihan otak mendeteksi suara-suara melalui musik. Di tengah-tengah hentakan musik yang bising di sebuah restoran, hanya para musisi yang bisa berbicara dengan baik. “Bermain musik meningkatkan kemampuan menjalani kehidupan,” kata Nina Kraus.
Pendidikan Anak
Musik dan kata-kata memang memiliki hubungan yang tak terpisahkan. Ketika pertama kali belajar kata-kata, seorang bayi justru dipedengarkan dengan nyanyian, yaitu kata-kata yang dinyanyikan. Inilah yang disebut musical patterns in speech.
Temuan penelitian ini penting bagi dunia pendidikan dan terhadap proses pembelajaran. Pendidikan musik dapat membantu perkembangan anak-anak autisme disleksia agar bisa menggunakan kemampuannya berbicara. Kata Nina Kraus lagi, “Memainkan peralatan musik justru membantu anak-anak mampu menyeleksi kata-kata apa yang layak diucapkan dalam suasana kelas yang gaduh. Di samping itu, kemampuan bermusik membuat seorang anak lebih cepat menangkap nuansa bahasa yang halus dalam setiap suara yang keluar dari mulut manusia.”
Arti penting mengajaran musik, dengan demikian, tak terbatas hanya untuk keperluan menstimuli anak-anak agar memiliki kepekaaan terhadap musik. “Pengajaran musik penting untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan mengendalikan emosi anak-anak,” kata Nina Kraus. Aniruddh D. Patel dari The Neurosciences Institute, San Diego, menyebutkan temuan penelitian ini menyimpulkan bahwa musik tidak saja memenuhi hot spots dalam otak manusia, tetapi juga memenuhi otak kiri dan kanan. “Kata kerja dan kata benda yang berubah menjadi tones, chord dan harmony yang spesifik bisa bertumpang tindah dalam mekanisme kerja otak sebelah kanan,” ucap Aniruddh D. Patel. “Beberapa ilmuwan, seperti Charles Darwin, telah berspekulasi bahwa kemampuan musik pada manusia mungkin telah berkembang lebih dahulu dibandingkan dengan kemampuan berbahasa”. Sehingga degan demikian, pelajaran musik sangat penting bagi anak-anak, agar mereka kemudian mengembangkan kemampuan berbahasa.
Post 










0 komentar:
Posting Komentar